Pages

Thursday, August 13, 2015

Potret Hangat Anak Prasekolah dan Lansia Yang Penuh Cinta

Potret Hangat Anak Prasekolah dan Lansia Yang Penuh Cinta

 Dilansir dari laman boredpanda.com, sebuah lembaga pendidikan Prasekolah The antargenerasi Learning Center (ILC), telah mengajak siswanya untuk berkunjung ke sebuah panti jompo di Providence Mount St, Vincent di Seattle. Tujuan dari mengajak anak-anak berkunjung ke panti jompo atau rumah pensiunan ini sendiri adalah agar anak-anak bisa lebih dekat dan peduli terhadap orang tua khususnya lansia.
Acara ini juga bertujuan agar anak-anak belajar lebih banyak mengenai kehidupan, mengajak anak untuk membantu orang yang membutuhkan pertolongan dan peduli kepada orang lain, menerima keberadaan orang cacat serta membuat anak menjadi pribadi yang lebih berani dan tidak takut terhadap orang dewasa.
Saat berada di panti jompo ini, anak-anak terlihat antusias, hormat dan begitu menyayangi para orang tua. Dan orang tua di panti tersebut nampaknya juga sangat senang dengan kedatangan anak-anak. Berikut adalah beberapa foto kehangatan anak-anak prasekolah bersama para lansia. Dari foto berikut, bisa d

Hailey Fort: Gadis 9 Tahun Yang Penuh Semangat dan Inspiratif

** Hailey Fort: Gadis 9 Tahun Yang Penuh Semangat dan Inspiratif **

Genibeconsultant.com - Dilansir dari laman metro.co.uk, seorang bocah berusia 9 tahun justru bisa menggetarkan hati kita semua dan membuat kita merasa malu dengan kebaikan yang telah ia lakukan. Pasalnya, sejak usia 5 tahun, bocah cantik bernama Hailey Fort tersebut telah banyak meluangkan waktunya untuk membantu dan menolong para tunawisma di sekitar rumahnya ataupun tunawisma yang pernah ia temui di jalan.
Menurut sang ibu yang bernama Miranda, pada usia 5, Hailey pernah bertanya kepada sang ibu apa yang bisa ia lakukan untuk membantu orang-orang tunawisma yang tak punya rumah dan makanan cukup sepertinya. Sang ibu pun mengajaknya untuk memberi makan mereka dengan membeli beberapa makanan di supermarket terdekat.
Sejak saat itu, bocah yang tercatat sebagai salah satu siswi di King Fort, Washington, Amerika Serikat ini mulai menyisihkan uang sakunya dan memberikannya kepada tunawisma yang ada di sekitar rumahnya. Hingga usia 6 tahun, ia diajari oleh sang bunda untuk bercocok tanam sayur dan buah. Sayur dan buah inilah yang nanti akan diberikan kepada para tunawisma.
Dan saat ini, di usianya ke 9 tahun, ia bahkan telah membangun sebuah rumah untuk seorang tunawisma yang tak lain adalah temannya di mana tunawisma tersebut bernama Edward. Beberapa waktu lalu, Edward telah kehilangan pekerjaannya di sebuah supermarket dekat tempat tinggalnya. Merasa kasihan dan ingin memastikan Edward tidur di tempat yang hangat serta nyaman, Hailey pun membangunkan rumah untuknya.
Dan berikut adalah potret dari Hailey yang penuh semangat dan inspirasi saat membangun rumah untuk tunawisma.
Foto Tes Sidik Jari.
Foto Tes Sidik Jari.
+2


Bermain Optimalkan Otak Anak, Benarkah?

Bermain Optimalkan Otak Anak, Benarkah?


Genibeconsultant.com - Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Ketika kita faham tahapan bermain anak, orang tua dapat mengoptimalkan perkembangannya. Benarkah? Dilansir dari Tabloid Nakita.com. Buat anak, bermain tidak sekadar menyenangkan, tetapi dapat memberi banyak manfaat.
Apalagi usia batita merupakan masa emas pertumbuhan otak, sehingga pemberian stimulasi melalui kegiatan bermain dapat mengoptimalkan seluruh aspek perkembangan batita.
Mildred Parten yang memopulerkan teori perilaku bermain sosial, mengidentifikasi 6 tahapan perkembangan bermain anak, dengan sebutan Parten’s Classic Study of Play. Gagasan Parten mengenai tahapan perkembangan bermain ini sering dijadikan acuan dalam menilai kemampuan sosial anak. Bila memang sampai usia tertentu, perilaku bermain sosialnya tidak berkembang, orang tua dapat melakukan konsultasi kepada psikolog anak.
Gagasan Parten ini juga dapat digunakan untuk membantu orang tua memberikan stimulus perkembangan kemampuan sosial. Bila anak sudah mampu melewati tahapan bermain yang satu. Selain itu, orang tua dapat mulai mengenalkan tahapan bermain yang selanjutnya pada anak.
Tidak hanya itu, orang tua juga perlu mendampingi dan mendukung kegiatan bermain si batita, bahkan sebaiknya ikut terlibat dalam permainan. Namun, perlu diketahui bahwa anak adalah pemilik permainan itu. Jadi, orang tua sebaiknya dapat menghindari mendominasi permainan, agar anak tidak kehilangan kunci bermain, yaitu kesenangan. Misalnya, saat anak bermain puzzel dan sering salah meletakkan potongan yang sesuai, ada kalanya orangtua langsung mengambil alih permainan dan meletakkan potongan yang sesuai. Nah, yang begini harus dihindari.
Beri kebebasan pada anak untuk bermain, berekspresi, dan berkreasi. Bermain harus dilakukan dengan rasa senang sehingga semua kegiatan bermain akan menghasilkan proses belajar. Saat bermain, semua indra anak bekerja aktif. Semua informasi yang ditangkap indra si batita, disampaikan ke otak sebagai rangsangan, sehingga sel-sel otak aktif berkembang.

Bermain Optimalkan Otak Anak, Benarkah?


PENELITIAN ANAK CERDAS KARENA DEKAT Dg AYAH

Salah satu yang menarik perhatian saya akhir-akhir ini adalah nyatanya, ada penelitian yang dikutip dari tribunnews bahwa studi oleh Father Involvement Research Alliace, bayi yang dekat dengan ayah cenderung memiliki emosi yang stabil, saat dewasa lebih percaya diri, dan bersemangat dalam mengeksplorasi potensi diri untuk merealisasikan ide serta impian. Bukti lain yang saya temukan untukmu, coba nonton reality show dari korea selatan, the return of superman disana ditunjukkan bahwa ayah-ayah yang berperan sebagai aktor, penyanyi, atlit, ditantang untuk mengurus anak mereka tanpa peran langsung dengan istrinya. Hasilnya? WAH! Anak-anak mereka cerdas karena didikan langsung dari sang ayah.

Anak Adalah Peniru Handal Sikap Orangtuanya

Satu hal yang menjadi fakta bahwa anak terutama usia balita (bayi hingga lima tahun) adalah mereka peniru terbaik orangtuanya. Jika orangtuanya baik attitudenya atau baik prilaku kesehariannya di rumah maka anakpun akan menirunya mentah-mentah tanpa ada penolakan. Begitupun sebaliknya. Anak juga bisa dididik sedini mungkin maka dia akan lebih mudah memahami mana yang boleh dilakukan mana yang tidak. Mana yang termasuk prilaku baik mana yang tidak.
Nah, jika anak tidak dididik dan dibiarkan saja, nantinya dia akan belajar dari manapun. Termasuk dari lingkungan sekitarnya. Jangan heran ada anak usia 1-7 tahun yang nakal dan buandelnya luar biasa. Bisa disalahkan orangtuanya apakah mereka dididik dengan benar atau tidak. Apakah mereka dibiarkan saja belajar dari lingkungan mereka atau tidak itu juga berpengaruh pada tingkat kenakalan anak.

Apakah Benar Begitu atau Hanya Segelintir Anak Saja?

Ya, benar demikian. Hal itu tidak terjadi pada segelintir anak. Cobalah liat reality show korea selatan yang saya sebutkan diatas. Kamu bisa melihatnya pada website kshowonline.com. Disana kamu bisa melihat triplet atau anak kembar 3 yang selalu dididik tegas oleh sang ayah namun tidak keras. Dari sikap dan prilakunya, 3 anak itu laki-laki yang cenderung menjadi nakal dan manja nantinya. Tapi sang ayah selalu berhasil mengajarkan pendidikan sikap dan kepatuhan. Terlihat dari ke 3 anak itu yang bersedih wajahnya saat dia tidak patuh dan dihukum oleh sang ayah semisal menghadap tembok dalam waktu tertentu hingga mau meminta maaf pada sang ayah. Lalu saat mengambil makanan saudaranya tanpa izin, maka sang ayah menghukumnya tidak akan memberi makan si anak.
Karena sang ayah sadar betul dan paham bahwa anak-anaknya kelak akan meniru perbuatan buruk orang lain saat diluar rumah, sekolah, atau dimanapun. Dengan dididikan semacam itu, anak akan mampu membedakan bahwa jika di rumah dia tidak diajarkan demikian. Hingga bisa membedakan dan tidak ikut pergaulan di lingkungannya kelak semasa dewasa. Selain itu juga memberi kecerdasan intelektual dan emosional. Karena sudah sejak kecil mereka mendapatkan interaksi dan komunikasi yang rutin dari orangtuanya. Bayangkan sekarang ini banyak orangtua lebih percaya anak dititipkan pada tempat pengasuh anak, pada baby sitter dan pada anggota keluarga lain. Yang belum tentu selalu mendapatkan pendidikan moral dan sikap baik.
Itulah Mengapa Korea Selatan dan Jepang Maju Dalam Pendidikan Karakter
Jangan heran jepang, korea selatan, adalah negara dengan tingkat rasa hormat yang tinggi pada orangtua mereka. Selain itu mereka termasuk negara maju yang paham akan sikap dan karakter yang berdisiplin. Itulah mengapa mereka jadi negara maju. Bahkan korea selatan bisa menjadi semaju sekarang karena sudah sadar bahwa pendidikan karakter sejak dini dapat menentukan kesuksesan anak dimasa depan.
Untuk itu, mulai sekarang bagimu yang sudah berkeluarga dan memiliki anak untuk bisa menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama anak. Terutama kamu bagi para ayah. Bagi calon ayah, juga jangan cuek. Ini sepele. Tapi dampaknya besar. Karena nantinya jangan salahkan anak saat remaja dia membandel atau bahkan menjadi pembangkang jika memang sejak kecil tidak pernah mendapatkan pelajaran karakter dari sang ayah. Ya, luangkan waktu sebanyak mungkin bersama anak. Agar nantinya anak mampu bertahan di kerasnya hidup saat kita sudah tidak bisa lagi terus menerus memantaunya atau saat mereka memiliki kehidupan sendiri lepas dari kita.
(Sumber : Blog Nasihat Ayah)