PENELITIAN ANAK CERDAS KARENA DEKAT Dg AYAH
Salah satu yang menarik perhatian saya akhir-akhir ini adalah nyatanya, ada penelitian yang dikutip dari tribunnews bahwa studi oleh Father Involvement Research Alliace, bayi yang dekat dengan ayah cenderung memiliki emosi yang stabil, saat dewasa lebih percaya diri, dan bersemangat dalam mengeksplorasi potensi diri untuk merealisasikan ide serta impian. Bukti lain yang saya temukan untukmu, coba nonton reality show dari korea selatan, the return of superman disana ditunjukkan bahwa ayah-ayah yang berperan sebagai aktor, penyanyi, atlit, ditantang untuk mengurus anak mereka tanpa peran langsung dengan istrinya. Hasilnya? WAH! Anak-anak mereka cerdas karena didikan langsung dari sang ayah.Anak Adalah Peniru Handal Sikap Orangtuanya
Satu hal yang menjadi fakta bahwa anak terutama usia balita (bayi hingga lima tahun) adalah mereka peniru terbaik orangtuanya. Jika orangtuanya baik attitudenya atau baik prilaku kesehariannya di rumah maka anakpun akan menirunya mentah-mentah tanpa ada penolakan. Begitupun sebaliknya. Anak juga bisa dididik sedini mungkin maka dia akan lebih mudah memahami mana yang boleh dilakukan mana yang tidak. Mana yang termasuk prilaku baik mana yang tidak.Nah, jika anak tidak dididik dan dibiarkan saja, nantinya dia akan belajar dari manapun. Termasuk dari lingkungan sekitarnya. Jangan heran ada anak usia 1-7 tahun yang nakal dan buandelnya luar biasa. Bisa disalahkan orangtuanya apakah mereka dididik dengan benar atau tidak. Apakah mereka dibiarkan saja belajar dari lingkungan mereka atau tidak itu juga berpengaruh pada tingkat kenakalan anak.
Apakah Benar Begitu atau Hanya Segelintir Anak Saja?
Ya, benar demikian. Hal itu tidak terjadi pada segelintir anak. Cobalah liat reality show korea selatan yang saya sebutkan diatas. Kamu bisa melihatnya pada website kshowonline.com. Disana kamu bisa melihat triplet atau anak kembar 3 yang selalu dididik tegas oleh sang ayah namun tidak keras. Dari sikap dan prilakunya, 3 anak itu laki-laki yang cenderung menjadi nakal dan manja nantinya. Tapi sang ayah selalu berhasil mengajarkan pendidikan sikap dan kepatuhan. Terlihat dari ke 3 anak itu yang bersedih wajahnya saat dia tidak patuh dan dihukum oleh sang ayah semisal menghadap tembok dalam waktu tertentu hingga mau meminta maaf pada sang ayah. Lalu saat mengambil makanan saudaranya tanpa izin, maka sang ayah menghukumnya tidak akan memberi makan si anak.Karena sang ayah sadar betul dan paham bahwa anak-anaknya kelak akan meniru perbuatan buruk orang lain saat diluar rumah, sekolah, atau dimanapun. Dengan dididikan semacam itu, anak akan mampu membedakan bahwa jika di rumah dia tidak diajarkan demikian. Hingga bisa membedakan dan tidak ikut pergaulan di lingkungannya kelak semasa dewasa. Selain itu juga memberi kecerdasan intelektual dan emosional. Karena sudah sejak kecil mereka mendapatkan interaksi dan komunikasi yang rutin dari orangtuanya. Bayangkan sekarang ini banyak orangtua lebih percaya anak dititipkan pada tempat pengasuh anak, pada baby sitter dan pada anggota keluarga lain. Yang belum tentu selalu mendapatkan pendidikan moral dan sikap baik.
Itulah Mengapa Korea Selatan dan Jepang Maju Dalam Pendidikan Karakter
Jangan heran jepang, korea selatan, adalah negara dengan tingkat rasa hormat yang tinggi pada orangtua mereka. Selain itu mereka termasuk negara maju yang paham akan sikap dan karakter yang berdisiplin. Itulah mengapa mereka jadi negara maju. Bahkan korea selatan bisa menjadi semaju sekarang karena sudah sadar bahwa pendidikan karakter sejak dini dapat menentukan kesuksesan anak dimasa depan.
Untuk itu, mulai sekarang bagimu yang sudah berkeluarga dan memiliki anak untuk bisa menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama anak. Terutama kamu bagi para ayah. Bagi calon ayah, juga jangan cuek. Ini sepele. Tapi dampaknya besar. Karena nantinya jangan salahkan anak saat remaja dia membandel atau bahkan menjadi pembangkang jika memang sejak kecil tidak pernah mendapatkan pelajaran karakter dari sang ayah. Ya, luangkan waktu sebanyak mungkin bersama anak. Agar nantinya anak mampu bertahan di kerasnya hidup saat kita sudah tidak bisa lagi terus menerus memantaunya atau saat mereka memiliki kehidupan sendiri lepas dari kita.
(Sumber : Blog Nasihat Ayah)
No comments:
Post a Comment